Warga BCP 2 Terendam 1,5 Meter, Bantuan Tak Kunjung Datang: Pemerintah Kabupaten Serang Dinilai Lamban

oleh

Warga BCP 2 Terendam 1,5 Meter, Bantuan Tak Kunjung Datang: Pemerintah Kabupaten Serang Dinilai Lamban

Serang – CompasKotaNews.com
Gelombang bencana hidrometeorologi kembali menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Banten dalam lebih dari sepekan terakhir. Rentetan kejadian mulai dari tanah longsor hingga banjir besar melanda berbagai daerah, termasuk Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Serang, hingga wilayah Tangerang.

Salah satu kawasan yang mengalami dampak paling parah adalah Perumahan Bumi Ciruas Permai 2 (BCP 2) di Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Wilayah yang memang kerap menjadi langganan banjir tahunan ini, kini kembali terendam dengan ketinggian air yang jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Floating Ad with AdSense
X

Pantauan di Blok G2 BCP 2 menunjukkan air di luar rumah warga mencapai sekitar 1,5 meter atau setinggi dada orang dewasa, sementara bagian dalam rumah terendam hingga sekitar 50 sentimeter. Kondisi ini membuat banyak perabot dan barang elektronik warga tak terselamatkan.

Padahal, pada Minggu lalu telah dilakukan pengerukan di Kali Gendong, saluran air yang berada di bawah pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC). Namun derasnya debit air membuat upaya tersebut belum mampu menahan luapan banjir.

Seorang mantan ketua RW BCP 2 menyebut kawasan ini berfungsi seperti “mangkuk besar” yang menampung limpahan air dari berbagai wilayah sekitar. Ia mengungkapkan, aliran air dari Perumahan Persada Banten diduga telah dialihkan menuju wilayah Kepuren, lalu bermuara di Blok K BCP 2. Selain itu, aliran dari Perum Kepuren Resident juga disebut bermuara ke Kali Gendong yang berada di area BCP.

BACA JUGA :  Percepatan Reforma Agraria dan Peran Strategis ATR/BPN dalam Mendukung Industri Properti Sultra

Sejak Senin malam, petugas dari Tagana Kabupaten Serang, kepolisian, dan Babinsa Desa Ranjeng terlihat siaga memantau ketinggian air serta kondisi warga. Salah satu petugas Tagana, Rizal, mengatakan pemantauan dilakukan secara intensif karena debit air terus mengalami kenaikan.

Akibat kondisi yang semakin memburuk, warga mulai meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun hingga Selasa pagi, 13 Januari 2026 pukul 08.20 WIB, para pengungsi mengaku belum menerima bantuan logistik maupun bahan pangan.

Upaya wartawan untuk meminta bantuan darurat kepada Asisten Daerah (Asda) I Kabupaten Serang, Syamsudin, telah dilakukan sejak Senin (12/1/2026), namun hingga kini belum diperoleh kepastian terkait penyaluran bantuan.

Sementara itu, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Serang yang dihubungi mengaku telah berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Salah seorang legislator bahkan menyampaikan bahwa seluruh bantuan harus melalui mekanisme dinas terkait.

“Kami memantau kondisi satu kabupaten dan tetap berkoordinasi dengan dinas,” ujar seorang anggota DPRD Kabupaten Serang kepada wartawan.

Dari pihak Dinas Sosial Kabupaten Serang, Kepala Bidang Bencana Amsar menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan pendataan wilayah terdampak. Ia menyebut bantuan belum bisa disalurkan sebelum dilakukan asesmen bersama BPBD.

Namun di lapangan, warga mengaku yang paling mereka butuhkan saat ini bukan lagi pendataan, melainkan makanan, air bersih, dan perlengkapan darurat.

Terkait dugaan pengalihan aliran air dari Perumahan Persada Banten ke wilayah Kepuren yang bermuara di BCP 2, wartawan juga mencoba menghubungi anggota DPRD dari Komisi II, termasuk Saefulloh, untuk mencari solusi. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan.

Di tengah keterbatasan bantuan dari pemerintah daerah, Polres Kabupaten Serang telah turun tangan melakukan proses evakuasi terhadap warga terdampak.

BACA JUGA :  Cara Efektif Mengelola Waktu agar Lebih Produktif Setiap Hari

Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan warga. Beberapa di antaranya bahkan melontarkan sindiran bernada getir tentang lambannya penanganan banjir di daerah mereka.

Kini, harapan warga Bumi Ciruas Permai hanya satu: bantuan cepat dan solusi nyata, agar mereka dapat bertahan dan segera kembali ke rumah masing-masing tanpa harus terus dihantui ancaman banjir yang berulang. (Budi/Red)