
Fakta Terbaru Dugaan Pelecehan Seksual oleh Guru Ngaji di Lebak Wangi: Korban Ungkap Trauma Mendalam
Serang, Banten CompasKotaNews.Com
Sebuah kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum guru ngaji di wilayah Lebak Wangi, Kabupaten Serang, kembali memicu keprihatinan publik setelah korban berinisial SS mengungkapkan pengalaman traumatis yang dialaminya. Kasus ini kini tengah menjadi fokus perhatian aparat penegak hukum serta masyarakat luas di Banten.
Korban Ceritakan Pengalaman Traumatis
Menurut pengakuan korban, peristiwa yang diduga dilakukan oleh guru ngaji tersebut terjadi berulang kali sebelum akhirnya berani dibuka ke publik. SS mengatakan dampak psikologis dari tindakan itu masih dirasakan hingga kini, termasuk rasa takut dan sulit untuk berinteraksi normal seperti sedia kala.
Trauma yang dialami korban menunjukkan salah satu konsekuensi terbesar yang sering ditemui pada korban kekerasan seksual, di mana pengalaman tersebut tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga psikologis dalam jangka panjang.
Modus dan Pola Dugaan Pelecehan
Kasus oknum guru yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak dan murid bukanlah fenomena yang hanya terjadi satu kali di Banten. Sebelumnya, aparat kepolisian mencatat sejumlah kejadian serupa di Kabupaten Lebak di mana pelaku menggunakan kedekatan profesinya untuk mendapatkan akses kepada korban.
Dalam satu kasus di Kecamatan Sobang, seorang guru olahraga berinisial WS diduga melakukan pencabulan terhadap beberapa murid di sekolah, gelanggang olahraga, bahkan sampai di rumah korban. Dugaan pelecehan ini baru terungkap setelah salah satu anak bercerita kepada orang tua dan keluarga kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi.
Polri dan Upaya Penanganan Kasus
Pihak kepolisian setempat memastikan bahwa laporan dari keluarga korban menjadi titik awal terungkapnya kasus ini. Aparat kemudian melakukan proses penyelidikan dan penangkapan terhadap terduga pelaku, sementara pendampingan psikologis juga diberikan kepada anak-anak yang menjadi korban.
Meskipun demikian, kasus‑kasus seperti ini kerap menghadapi tantangan kuat di masyarakat karena stigma dan rasa takut dari korban untuk bersuara. Pendampingan psikologis dianggap sangat penting agar korban dapat mulai memulihkan kesehatan mental dan kembali menjalani kehidupan normal.
Respons Masyarakat dan Tokoh Agama
Tokoh agama dan pimpinan organisasi masyarakat setempat menyatakan keprihatinan atas dugaan tindakan yang dilakukan oleh pendidik. Mereka menyerukan agar kasus ini diproses melalui jalur hukum secara adil dan transparan sehingga memberikan efek jera.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak bahkan mendorong pihak berwenang untuk memperketat pengawasan terhadap tenaga pengajar agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Peristiwa dugaan pelecehan seksual yang melibatkan guru ngaji di Lebak Wangi tidak hanya menyisakan luka pada korban, tetapi juga mengungkap pentingnya kepedulian lingkungan terhadap keselamatan anak‑anak. Trauma korban serta reaksi masyarakat menunjukkan bahwa isu kekerasan seksual terhadap anak masih memerlukan perhatian serius dari semua pihak, termasuk penegak hukum, sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat. (Red/CKN)






