
JAKARTA, CompasKotaNews.com – Peneliti senior Saiful Mujani Research Center (SMRC) Saidiman Ahmad menyoroti pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat bertemu korban Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Batang, Jawa Tengah.
Menurut Saidiman, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai indikasi adanya perbedaan pandangan antara Gibran dan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelaksanaan program MBG.
Saidiman juga menilai perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo di kalangan elite belum sepenuhnya solid.
Pernyataan Gibran kepada Korban MBG
Saat berbicara dengan korban MBG di Batang, Gibran meminta seorang siswa untuk sementara membawa bekal makanan dari rumah.
“Kamu hari ini pulang, besok sekolah, ya. Nanti bawa bekal dari rumah. MBG jangan dimakan.”
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan karena muncul di tengah pelaksanaan program MBG yang merupakan salah satu program pemerintah.
Menurut Saidiman, ucapan Gibran dapat mencerminkan adanya perbedaan pendekatan mengenai sasaran maupun mekanisme pelaksanaan program tersebut.
Perbedaan Pendekatan dalam Pelaksanaan MBG
Saidiman menjelaskan, Gibran disebut memiliki pandangan bahwa program MBG sebaiknya lebih difokuskan kepada masyarakat dengan tingkat ekonomi paling rendah.
Sementara itu, menurut Saidiman, Presiden Prabowo menginginkan program makan bergizi tersebut diberikan kepada seluruh siswa.
Perbedaan lainnya disebut berkaitan dengan pola penyediaan makanan. Gibran dinilai lebih mendorong keterlibatan dapur-dapur masyarakat yang berada di sekitar sekolah, termasuk kantin sekolah.
Adapun pelaksanaan MBG saat ini menggunakan konsep dapur terpusat. Menurut Saidiman, sebagian dapur tersebut dikelola dengan melibatkan unsur militer dan kepolisian.
“Yang menarik, perbedaan ini tidak sungkan diungkapkan ke publik,” kata Saidiman.
Saidiman Soroti Konsolidasi Kekuasaan Prabowo
Dari berbagai tafsir politik yang berkembang, Saidiman mengatakan ada satu hal yang menurutnya penting untuk diperhatikan, yakni indikasi bahwa kekuasaan Prabowo belum sepenuhnya terkonsolidasi di antara kalangan elite.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan perkembangan persepsi publik terhadap pemerintahan berdasarkan sejumlah survei opini publik.
“Runtuhnya legitimasi politik presiden di tingkat akar rumput, sebagaimana terpotret dalam berbagai survei opini publik, dinilai bergema hingga membuat loyalitas elite mulai retak,” ujar Saidiman.
Selain pernyataan Gibran mengenai MBG, Saidiman juga menyinggung sejumlah pernyataan politik lainnya.
Ia menyebut pidato Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengenai demokrasi, serta pernyataan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan terkait program MBG.
Menurut Saidiman, berbagai pernyataan tersebut merupakan gejala politik yang dapat dibaca secara bersamaan untuk melihat dinamika hubungan dan konsolidasi di antara elite pemerintahan.
(Red/CKN)

