Mimpi itu Gratis, yang Mahai itu Proses dan Perjuangannya – Pesan untuk Generasi Z dan Para Orang Tua

Mimpi Itu Gratis, yang Mahal Itu Proses dan Perjuangannya — Pesan untuk Generasi Z dan Para Orang Tua

SERANG KOTA || Compaskotanews.com — Mimpi dan khayalan memang tak dipungut biaya, nyata adanya bagi siapa saja. Namun yang mahal dan bernilai tinggi bukan mimpinya, melainkan proses, kerja keras, dan perjuangan untuk mewujudkannya. Mari kita sampaikan pesan ini kepada generasi muda, khususnya Generasi Z — generasi yang hidup di genggaman gadget dan dunia maya. Jangan sampai waktu yang berharga terbuang sia-sia hanya untuk menatap layar ponsel sepanjang hari.

Kepada para orang tua, perhatian dan kehadiran Anda sangat menentukan masa depan anak-anak kita. Memandu dan membatasi akses gawai bukanlah hal yang berlebihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi zaman sekarang. Jika orang tua lengah, tidak peduli, atau membiarkan anak bebas tanpa arah, bahaya nyata mengintai. Dunia hiburan dan segala isinya masuk tanpa filter — baik yang bermanfaat maupun yang merusak — dan anak belum tentu mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Dunia digital menyuguhkan segala sesuatu dengan begitu mudah, sehingga ada risiko anak terbiasa hidup instan dan lupa bahwa setiap keberhasilan butuh perjuangan. Jangan sampai keterlenaan ini justru mencetak pembodohan, di mana anak hanya menjadi penikmat pasif informasi tanpa mampu mengolahnya menjadi karya nyata. Di sinilah peran orang tua menjadi penuntun: mendampingi, mengarahkan, dan mendidik agar anak tumbuh cerdas, tidak hanya secara pengetahuan, tetapi juga bijaksana dalam memilih jalan hidupnya.

Mendidiklah generasi kita agar tidak hanya berpikir untuk mencari pekerjaan, tetapi bermental kuat untuk menciptakan lapangan kerja. Tanamkan semangat kemandirian dan jiwa wirausaha — jadikan diri kita pengusaha, bukan selamanya hanya menjadi pengikut. Milikilah mental baja: tidak malu berjuang, tetapi justru malu jika kita hanya berdiam diri dan berpangku tangan sementara keinginan hidup terus bertumpuk tanpa usaha yang sebanding.

Kita sedang berjalan menuju masa depan di mana kelak kita akan diuji: mampu kah kita menghidupi keluarga, membimbing anak istri, dan menjadi tiang bagi orang-orang di sekitar kita? Maka jadilah laki-laki yang sejati — yang bertanggung jawab, kuat, dan memimpin dengan kebaikan. Dan jadilah perempuan yang benar-benar perempuan — yang memahami kedudukannya, berakhlak mulia, dan menjadi pendamping serta pendidik yang luar biasa bagi generasi berikutnya. Semoga kita semua dan anak-anak kita senantiasa dalam jalan yang benar.

Oleh, Toni firdaus