
JAKARTA, CompasKotaNews.com – Longsor gunung sampah terjadi di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Jakarta, dan mengakibatkan sejumlah korban. Hingga saat ini tercatat delapan orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Dari jumlah tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia. Dua di antaranya diketahui berasal dari Provinsi Banten. Sementara itu, proses evakuasi terhadap korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim gabungan di lokasi kejadian.
Peristiwa ini kembali mengingatkan publik bahwa tumpukan sampah yang terus menggunung dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak dikelola dengan baik.
Tragedi serupa sebenarnya pernah terjadi di Indonesia. Pada tahun 2005, longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, menewaskan lebih dari 150 orang. Bencana tersebut dipicu longsoran besar sampah yang disertai ledakan gas metana.
Kondisi itu menjadi pelajaran penting bagi berbagai daerah yang masih bergantung pada sistem pembuangan sampah di satu lokasi besar.
Sebagai contoh, di Kota Serang, puluhan ton sampah setiap hari diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong. Lokasi tersebut terus menerima kiriman sampah tanpa henti dari berbagai wilayah di kota itu.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran jika pengelolaan sampah tidak dilakukan secara serius sejak dari sumbernya.
Peristiwa di Bantargebang diharapkan tidak hanya menjadi kabar duka, tetapi juga menjadi peringatan bagi banyak daerah agar mulai memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih aman dan berkelanjutan.
Kesadaran masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari rumah tangga dinilai menjadi langkah penting guna mencegah terbentuknya “gunung sampah” yang berpotensi menimbulkan bencana di masa depan. (Red/CKN)








