
CompasKotaNews.com – Iran diduga telah menghapus batasan jarak jangkauan rudal balistik yang sebelumnya ditetapkan sekitar 2.000 kilometer, sebuah kebijakan yang dijadikan pedoman resmi selama bertahun-tahun. Indikasi perubahan ini muncul setelah Teheran meluncurkan serangan ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.
Sebelumnya, Iran secara konsisten menegaskan bahwa program rudalnya dibatasi hingga 2.000 kilometer. Kebijakan tersebut diatur oleh pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, yang pada 2021 menegaskan bahwa pembatasan ini adalah keputusan politik untuk meredam kekhawatiran Eropa.
Namun, dinamika berubah setelah kematian Khamenei dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Pada 21 Maret, Iran menembakkan dua rudal balistik menuju Diego Garcia, yang jaraknya sekitar 4.000 kilometer dari wilayah Iran.
Serangan ini tidak berhasil mengenai sasaran. Satu rudal dilaporkan meledak di udara sebelum mencapai target, sementara rudal lainnya berhasil dicegat oleh kapal perang AS. Meski begitu, langkah Iran ini dinilai sebagai pesan politik yang kuat dan perubahan strategi militer yang signifikan.
Para pengamat pertahanan menilai serangan tersebut lebih bersifat simbolis ketimbang operasi militer yang efektif. Untuk mencapai Diego Garcia, Iran harus mengurangi bobot hulu ledak rudalnya secara drastis, sehingga akurasi pun ikut terpengaruh.
Michael Horowitz, analis pertahanan independen, menilai bahwa tindakan Iran menandakan perubahan besar dalam strategi militernya. “Batas 2.000 kilometer sebelumnya digunakan untuk menjaga keseimbangan antara pencegahan dan meredakan ketegangan. Kini, logika itu mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Pembatasan jarak rudal selama ini bukan karena keterbatasan teknologi, melainkan keputusan politik. Program rudal Iran diyakini telah memiliki kemampuan menembus jarak tersebut sejak lama.
Danny Citrinowicz, analis keamanan dari Tel Aviv, menambahkan bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran kekuatan internal Iran, terutama meningkatnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia memprediksi Iran akan bertindak lebih berani dan mengambil risiko tinggi, serupa pola negara seperti Korea Utara dalam kebijakan militernya.
Sementara itu, pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya pada 8 Maret, belum terlihat tampil di publik. Belum jelas apakah serangan ke Diego Garcia merupakan perintah langsung darinya atau keputusan militer independen.
Terlepas dari itu, para analis sepakat satu hal: batas jangkauan rudal yang selama ini dijaga Iran kini telah runtuh. Horowitz menilai langkah ini mencerminkan ambisi sekaligus tekanan yang dialami Iran. Semakin mereka terdesak, semakin besar dorongan untuk mengembangkan kemampuan nuklir dan rudal jarak jauh sebagai alat strategis.
Perubahan strategi ini juga memiliki implikasi besar bagi Eropa. Selain menunjukkan kemampuan menyerang target jarak jauh, Iran juga kembali menimbulkan ancaman terhadap jalur energi global, seperti Selat Hormuz, yang berpotensi berdampak besar pada pasar energi dunia.
“Jika saya berada di posisi Eropa, ini jelas menjadi kekhawatiran serius,” kata Horowitz.

