Retret Bela Negara PWI-Kemenhan: Meneguhkan Peran Wartawan sebagai Benteng Ketahanan Informasi Negara

oleh

Retret Bela Negara PWI–Kemenhan: Meneguhkan Peran Wartawan sebagai Benteng Ketahanan Informasi Bangsa

CompasKotaNews.Com
Perang modern tidak selalu diawali dentuman senjata atau pergerakan pasukan. Di era digital, konflik justru sering dimulai dari narasi, framing opini, dan arus informasi yang perlahan menggeser kesadaran publik.

Floating Ad with AdSense
X

Dalam konteks inilah, Retret Bela Negara bagi wartawan menjadi sangat relevan—bukan sebagai simbol romantisme militerisme atau sekadar penggunaan seragam loreng, melainkan sebagai ruang refleksi kebangsaan untuk merespons perang informasi dan perang psikologis (psychological warfare) yang kian masif, baik secara global maupun domestik.

Ketika ruang digital dibanjiri hoaks, disinformasi, propaganda, dan manipulasi emosi, pertahanan negara tidak lagi cukup bertumpu pada alutsista. Negara membutuhkan kesadaran kolektif para penjaga ruang publik—termasuk wartawan—sebagai garda depan ketahanan informasi nasional.

Selama empat hari mengikuti Retret Bela Negara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Rumpin, Bogor, para wartawan tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga diajak menyelami makna bernegara secara lebih mendalam. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah latihan menembak menggunakan pistol Commando 36 di Markas Pasukan Elite Batalyon 13 Kopassus, Bogor. Latihan tersebut bukan sekadar uji keterampilan, melainkan pelajaran tentang disiplin, ketegasan, fokus, dan tanggung jawab—nilai-nilai esensial dalam bela negara.

Pengalaman itu memberi pemahaman utuh mengapa Presiden Prabowo Subianto sejak awal mendorong para pembantu utamanya—mulai dari menteri hingga kepala daerah—untuk mengikuti retret serupa. Penggunaan PDL loreng bukanlah simbol militeristik kosong, melainkan upaya menyatukan perspektif, disiplin, dan komitmen kebangsaan para pemimpin dalam satu kesadaran kolektif: negara harus dijaga dengan integritas, pengabdian, dan keberanian moral.

BACA JUGA :  Wagub Banten Tegaskan Pers Pilar Demokrasi dan Mitra Strategis Pembangunan

Sebagai individu yang sejak lama bergelut dalam aktivitas alam dan pembentukan karakter melalui organisasi pecinta alam CICERA Universitas Pancasila, keyakinan bahwa pengalaman lapangan dan refleksi diri mampu membangun karakter kembali terkonfirmasi. Retret bela negara membuktikan bahwa para pemegang kekuasaan, pembuat kebijakan, profesi strategis—termasuk wartawan—perlu sesekali “ditarik keluar” dari rutinitas kekuasaan dan rutinitas informasi untuk mereset orientasi kebangsaan.

Di tengah perubahan tatanan global, eskalasi konflik geopolitik, dan lompatan teknologi digital yang sangat cepat, tata kelola negara tidak bisa lagi dijalankan dengan pendekatan lama. Berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, gaya hidup hedonis, dan praktik memperkaya diri yang dilakukan segelintir oknum mencerminkan krisis nilai.

Retret bela negara menjadi salah satu instrumen strategis untuk mengoreksi arah, menata ulang etika kekuasaan, dan mengembalikan orientasi pembangunan pada kepentingan rakyat serta cita-cita keadilan sosial.

Mengapa Wartawan Perlu Mengikuti Retret Bela Negara?

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan, terlebih karena untuk pertama kalinya dalam hampir 80 tahun sejarah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), retret bela negara diikuti secara kolektif oleh 162 wartawan senior dan yunior dari seluruh Indonesia.
Sejak masa perjuangan kemerdekaan, bangsa ini tidak hanya bertempur dengan senjata. Ada “senjata” lain yang tak kalah dahsyat: tulisan. Dari pamflet, selebaran, radio perjuangan, hingga media cetak dan digital hari ini, pers selalu menjadi instrumen strategis dalam membangun, menjaga, dan mengarahkan perjalanan bangsa.

Pers bukan sekadar pencatat sejarah. Ia adalah pengiring, pengawal, sekaligus pengingat arah. Pasca-kemerdekaan, peran pers justru semakin krusial sebagai kontrol sosial, penjaga akal sehat publik, dan benteng moral kebangsaan.

Dalam konteks ini, retret bela negara bagi wartawan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Wartawan tidak cukup hanya menguasai teknik jurnalistik, tetapi juga harus memiliki kesadaran kebangsaan yang kokoh untuk menghadapi praktik korupsi, eksploitasi sumber daya alam, perusakan lingkungan, hingga permainan ekonomi-politik yang merugikan rakyat.

BACA JUGA :  NGERI BANGET! Santri Di Pandeglang Terjebak 2 Jam di Atas Pohon Kelapa 20 Meter, Damkar Datang Langsung Panik Lihat Kondisinya!

Tulisan adalah medan tempur.
Media adalah strategi bernegara.
Dan wartawan adalah prajurit di garis depan perang informasi.

Bela Negara di Tengah Ancaman Nontradisional

Karakter ancaman terhadap negara telah berubah. Jika dahulu pertahanan identik dengan kekuatan militer dan penjagaan wilayah, kini ancaman justru banyak bergerak di ruang nonfisik—terutama ruang informasi.
Retret Wartawan PWI yang digelar pada 29 Januari–1 Februari 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Rumpin, Kabupaten Bogor, menjadi sangat strategis. Media tidak lagi sekadar menyampaikan fakta, tetapi turut membentuk persepsi publik tentang risiko, ancaman, dan rasa aman.

Pemberitaan yang sensasional, miskin konteks, atau semata mengejar klik berpotensi memicu kepanikan sosial, melemahkan kepercayaan publik, dan dalam skala tertentu dapat menjadi kerentanan bagi keamanan nasional.

Kesadaran inilah yang ditegaskan melalui kehadiran langsung Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, yang memberikan pengarahan hampir satu jam penuh. Kehadiran Menhan bukan seremoni, melainkan penegasan bahwa insan pers adalah bagian integral dari ekosistem bela negara, sebagaimana amanat Pasal 30 UUD 1945.
Menhan menekankan bahwa ancaman hari ini bersifat multidimensional: militer dan nonmiliter, fisik dan nonfisik, lokal dan global. Arus informasi yang masif dan disrupsi teknologi menuntut wartawan untuk selalu tajam membaca konteks strategis serta berpijak pada kepentingan nasional.

Menjaga Akal Sehat Publik

Ketakutan publik yang berlebihan adalah ancaman laten bagi ketahanan negara. Masyarakat yang dikuasai rasa takut mudah kehilangan rasionalitas dan rentan dimanipulasi. Dalam kondisi seperti itu, kohesi sosial melemah dan ruang publik menjadi rapuh.
Karena itu, Retret Bela Negara Wartawan PWI bukan sekadar kebersamaan dalam balutan PDL. Ia adalah ruang konsolidasi kesadaran bela negara nontradisional—agar setiap keputusan editorial, judul berita, dan narasi yang diproduksi tidak justru melemahkan ketahanan nasional.

BACA JUGA :  Libur Natal Tahun Baru, Kapolri Tinjau Taman Safari Solo, Cek Kesiapan dan Pengamanan

Di tengah perang opini global, wartawan yang berdisiplin, beretika, berani, dan berjiwa kebangsaan adalah bentuk bela negara paling strategis. Bukan dengan senjata, melainkan dengan akurasi, konteks, dan keberpihakan pada kepentingan bangsa.
Dari Rumpin hingga Markas Kopassus Bogor, di antara disiplin bela negara dan dentuman peluru latihan, satu kesadaran diteguhkan: perjuangan wartawan melalui media tidak pernah selesai selama NKRI berdiri.

Ir. Indra Utama, M.Pwk, IPU

Alumni Retret Wartawan PWI 2026 Kemenhan

CEO Journalist Media Network

Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Jakarta

Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila

Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk.

(Rie/red)