
CompasKotaNews.com – Situasi di Israel memanas setelah serangan rudal dari Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menghantam wilayah sipil. Insiden ini memicu kemarahan warga terhadap pemerintah, khususnya aparat keamanan yang dinilai gagal melindungi masyarakat.
Serangan terjadi pada malam hari bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). Dua kota di wilayah selatan, yakni Arad dan Dimona, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat hantaman rudal balistik.
Sejumlah bangunan hancur, sementara ratusan warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka. Di Arad saja, sedikitnya 88 orang terluka, sedangkan di Dimona—yang berada dekat fasilitas penting negara—tercatat sekitar 27 korban luka.
Ketegangan meningkat saat Itamar Ben-Gvir turun langsung meninjau lokasi terdampak. Kedatangannya justru disambut amarah warga. Sejumlah orang mencoba menerobos pengamanan demi menyampaikan protes secara langsung kepada pejabat tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang wanita nyaris menyerang Ben-Gvir sambil melontarkan kemarahan. Ia bahkan menyalahkan pemerintah atas konflik yang sedang berlangsung, serta membandingkan kepemimpinan Benjamin Netanyahu dengan rezim Nazi yang dipimpin Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II.
Meski mendapat tekanan, Ben-Gvir tetap meminta warga untuk tetap kuat dan mendukung upaya pemerintah dalam menghadapi konflik. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pembangunan tempat perlindungan bawah tanah guna mengantisipasi serangan lanjutan.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang memasuki hari ke-23 antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Pihak Teheran menyatakan bahwa target serangan adalah instalasi militer serta pusat keamanan di wilayah selatan Israel.
Sebagai latar belakang, Iran melancarkan serangan balasan setelah operasi militer Israel dan Amerika Serikat menyasar berbagai infrastruktur penting Iran, termasuk fasilitas nuklir Natanz.
Otoritas Israel mengonfirmasi bahwa setidaknya dua rudal balistik berhasil lolos dari sistem pencegatan dan menghantam area permukiman. Kegagalan ini memicu pertanyaan serius terkait efektivitas sistem pertahanan udara serta kesiapan perlindungan di kota-kota strategis seperti Arad dan Dimona.
Peristiwa ini menambah ketegangan di kawasan dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. (Red/CKN)

