
CompasKotaNews.com – Rekaman video yang beredar dari Teluk Oman memperlihatkan momen dua rudal balistik milik Iran menghantam fasilitas minyak di pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab. Video tersebut juga memperlihatkan upaya militer UEA menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat untuk menghentikan serangan, namun pencegatan tersebut tidak berhasil.
BACA JUGA:
Indonesia Kutuk Keras Serangan Israel ke Pasukan Perdamaian UNIFIL
Rekaman tersebut diambil dari sebuah kapal sipil yang berada di perairan sekitar lokasi kejadian. Dalam video tampak rudal-rudal pencegat diluncurkan ke udara, namun gagal menghentikan dua rudal balistik yang menuju sasaran.
Menurut laporan yang dikutip dari media militer internasional, insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi memanas setelah serangan udara besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran disebut menargetkan sejumlah infrastruktur strategis di negara-negara Timur Tengah yang memiliki hubungan erat dengan Washington. Salah satu target utama adalah fasilitas minyak di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab.
Enam Rudal Pencegat Diluncurkan
Dalam rekaman video tersebut terlihat sistem pertahanan udara Patriot milik UEA meluncurkan enam rudal pencegat untuk menghadapi dua rudal balistik Iran. Artinya, setiap target dilawan dengan tiga rudal pencegat.
Meskipun demikian, seluruh upaya pencegatan tersebut tidak berhasil menghentikan serangan. Rudal Iran tetap mencapai area target meski tidak terlihat menggunakan manuver rumit atau teknologi penangkal canggih.
Kegagalan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat efektivitas sistem pertahanan udara Patriot yang selama ini dikenal sebagai salah satu sistem anti-rudal paling canggih di dunia.
Video Beredar Meski Ada Sensor Ketat
Pemerintah Uni Emirat Arab diketahui memberlakukan pembatasan ketat terhadap pengambilan gambar maupun penyebaran video terkait serangan Iran. Bahkan dilaporkan lebih dari 50 orang telah ditangkap karena melanggar aturan tersebut.
Namun video dari Fujairah tetap dapat beredar karena direkam oleh awak kapal sipil yang berada di luar wilayah yurisdiksi negara tersebut. Rekaman ini menjadi salah satu gambaran langka mengenai serangan yang terjadi di kawasan itu.
Biaya Pencegatan Sangat Mahal
Selain masalah efektivitas, biaya penggunaan sistem pertahanan Patriot juga menjadi sorotan. Setiap rudal pencegat Patriot tipe PAC-3 diperkirakan bernilai antara 4 hingga 6 juta dolar AS.
Sementara itu, rudal balistik Iran yang digunakan dalam serangan diperkirakan bernilai kurang dari 400 ribu dolar AS. Dengan enam rudal pencegat yang diluncurkan, biaya untuk satu upaya pencegatan bisa mencapai sekitar 18 juta dolar.
Perbandingan biaya tersebut menunjukkan ketimpangan yang cukup besar antara harga rudal penyerang dan sistem pertahanan yang digunakan untuk menghentikannya.
Persediaan Rudal Pencegat Menipis
Situasi semakin rumit karena stok rudal pencegat Patriot dilaporkan mulai menipis. Persediaan milik militer Amerika Serikat disebut telah berkurang drastis sejak konflik meningkat, bahkan diperkirakan hanya tersisa sekitar seperempat dari jumlah yang dibutuhkan menurut perhitungan Pentagon.
Selain itu, jaringan radar pertahanan udara di kawasan Timur Tengah juga mengalami tekanan. Beberapa radar penting dilaporkan rusak akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Garda Revolusi Iran.
Beberapa fasilitas yang terdampak antara lain radar peringatan dini di Qatar serta radar dari sistem pertahanan THAAD yang berada di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Dengan keterbatasan stok rudal pencegat, kerusakan jaringan radar, serta jumlah rudal balistik Iran yang lebih besar, kemampuan pertahanan udara di kawasan Teluk kini dinilai menghadapi tantangan serius di tengah konflik yang terus berkembang. (Red/CKN)







