
CompasKotaNews.com – Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk Persia, ditandai dengan ledakan rudal dan sirine peringatan, memunculkan dugaan bahwa konflik ini bukan sekadar perselisihan regional biasa. Sejumlah analis menilai, ada agenda geopolitik besar yang sedang dimainkan oleh kekuatan global.
Analis politik internasional Brian Blum mengungkapkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran merupakan bagian dari strategi besar untuk membendung pengaruh Cina di panggung global. Menurutnya, langkah ini tidak semata-mata bertujuan melindungi Israel, sebagaimana yang sering diyakini publik.
Blum menyebut bahwa Pentagon memandang Iran sebagai titik strategis bagi Cina di luar kawasan Asia Timur. Oleh karena itu, melemahkan Iran dinilai penting untuk mempertahankan dominasi global yang selama ini dipimpin Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa hubungan antara Teheran dan Beijing telah terjalin sejak dekade 1980-an dan kini semakin kuat, terutama akibat tekanan sanksi Barat terhadap Iran. Kondisi tersebut mendorong Iran bergantung pada Cina dalam berbagai sektor, khususnya ekonomi dan teknologi.
Saat ini, Cina disebut menyerap hingga 90 persen ekspor minyak Iran, bahkan melalui mekanisme tidak langsung guna menghindari sanksi internasional. Sebagai imbal balik, Beijing menyediakan berbagai dukungan strategis yang memperkuat posisi Iran, antara lain:
- Sistem navigasi berbasis satelit BeiDou Navigation Satellite System yang menggantikan GPS Barat
- Teknologi pengawasan canggih, termasuk sistem pengenalan wajah untuk kontrol domestik
- Pasokan persenjataan modern, seperti rudal jelajah anti-kapal berkecepatan tinggi
Perebutan Kendali Selat Hormuz
Dominasi Cina atas Iran juga dinilai berpotensi memperkuat pengaruh Beijing di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Muncul kekhawatiran bahwa di masa depan, akses aman di jalur tersebut bisa diprioritaskan bagi kepentingan Cina.
Bagi Amerika Serikat, situasi ini dianggap berbahaya karena berpotensi menyerahkan kendali energi global kepada rival utamanya. Oleh sebab itu, melemahkan pengaruh Cina di Iran menjadi salah satu tujuan strategis Washington.
Blum juga mengutip pandangan Haviv Rettig Gur yang menyebut bahwa tekanan terhadap Iran—baik melalui sanksi maupun perubahan politik—dapat menjadi kunci untuk memutus pengaruh Cina di kawasan tersebut.
Kebijakan Berisiko di Era Donald Trump
Di sisi lain, kebijakan luar negeri Donald Trump dinilai sejalan dengan strategi ini. Melalui pendekatan “pivot to Asia” dan kebijakan perang dagang, Trump disebut memahami pentingnya peran Iran dalam menopang ekonomi Cina.
Jika suplai minyak dari Iran terganggu, maka dampaknya bisa langsung dirasakan oleh perekonomian Cina yang sangat bergantung pada energi impor.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Blum memperingatkan bahwa konflik yang melibatkan kekuatan besar ini dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk harga energi dan rantai pasok internasional.
Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil, baik di Iran maupun Cina, berpotensi menjadi korban dari dinamika geopolitik yang kompleks ini.
Pertarungan Menentukan Masa Depan Dunia
Blum menyimpulkan bahwa konflik Iran bukan sekadar soal militer atau perseteruan kawasan. Lebih dari itu, ini merupakan bagian dari persaingan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Cina dalam menentukan arah tatanan dunia di masa depan.
Menurutnya, jika pengaruh Cina di Iran berhasil dikurangi—baik melalui tekanan ekonomi, diplomasi, maupun perubahan internal—maka keseimbangan kekuatan global akan ikut bergeser.
“Ini bukan hanya tentang konflik regional, tetapi tentang siapa yang akan memimpin dunia dalam beberapa dekade ke depan,” pungkasnya.

