
Compaskotanews.com – Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10) ditemukan tewas gantung diri pada sebuah pohon cengkih di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban saat mengevakuasi jenazah bocah malang tersebut.
Ipda Benediktus R. Pissort, Kasi Humas Polres Ngada, mengonfirmasi bahwa YBR sendiri yang menulis surat tersebut dalam bahasa daerah Bajawa. Dalam pesannya, korban mengungkapkan kekecewaan mendalam kepada sang ibu yang ia sebut pelit, sebelum akhirnya menuliskan kalimat perpisahan terakhir.
Kekecewaan Akibat Faktor Ekonomi
Dugaan kuat motif tindakan nekat ini berasal dari kekecewaan korban karena tidak mendapatkan buku tulis dan pulpen baru. Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menceritakan bahwa malam sebelum kejadian, YBR sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli peralatan sekolah.
Namun, sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut karena impitan ekonomi. Sebagai ibu tunggal yang menghidupi lima orang anak sejak berpisah dengan suaminya 10 tahun lalu, kondisi finansial keluarga memang sangat memprihatinkan.
Kronologi Penemuan Korban

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)Molo Mama (Selamat tinggal mama)
YBR biasanya tinggal bersama neneknya di sebuah pondok kebun. Pada malam sebelum kejadian, ia menginap di rumah ibunya demi meminta uang sekolah tersebut, namun kembali ke pondok keesokan paginya tanpa hasil. Bukannya berangkat ke sekolah, YBR justru mengakhiri hidupnya di pohon cengkih setinggi 15 meter yang terletak hanya tiga meter dari pondok neneknya.
Seorang warga yang hendak mengikat ternak di kebun tersebut menemukan tubuh YBR pertama kali pada Kamis (29/1/2026). Saat itu, nenek korban sedang tidak berada di tempat karena tengah membantu tetangga mengupas kemiri sejak malam hari.
Respons Pemerintah: Perkuat Data dan Pendampingan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan duka cita mendalam atas tragedi ini. Beliau menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak, terutama terkait perlunya pendampingan bagi keluarga tidak mampu.
Gus Ipul berkomitmen untuk memperkuat integrasi data kemiskinan bersama pemerintah daerah agar keluarga yang membutuhkan pemberdayaan dan perlindungan dapat terjangkau oleh program pemerintah. Di sisi lain, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan akan menyelidiki lebih lanjut penyebab pasti kasus yang menimpa siswa tersebut.






