Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, MUI Ajak Umat Sikapi dengan Bijak

oleh
Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, MUI Ajak Umat Sikapi dengan Bijak
Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, MUI Ajak Umat Sikapi dengan Bijak

Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, MUI Ajak Umat Sikapi dengan Dewasa

CompasKotaNews.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, muncul potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa di Indonesia. Menyikapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam untuk bersikap dewasa dan tetap menjaga persatuan.

Wakil Ketua Umum MUI, M. Cholil Nafis, menjelaskan bahwa kemungkinan perbedaan awal Ramadan tahun ini disebabkan oleh adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Floating Ad with AdSense
X

Menurutnya, sebagian pihak menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara yang lain menggabungkannya dengan metode rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung terhadap hilal saat matahari terbenam.

Perbedaan Metode Penentuan Awal Bulan

Dalam penjelasannya, Cholil Nafis menyebut bahwa posisi hilal menjelang Ramadan 1447 H diperkirakan belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh forum Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi tertentu agar dapat dinyatakan terlihat secara imkan rukyat. Jika posisi hilal masih di bawah standar tersebut, maka ada kemungkinan terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.

Di Indonesia sendiri, penetapan awal Ramadan biasanya dilakukan melalui Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama, dengan mempertimbangkan hasil hisab dan laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan di seluruh wilayah Tanah Air.

MUI Tekankan Sikap Dewasa dan Jaga Ukhuwah

MUI menegaskan bahwa perbedaan dalam menentukan awal Ramadan bukanlah hal baru. Perbedaan tersebut termasuk dalam ranah khilafiyah atau perbedaan pendapat dalam kajian fikih yang telah lama dikenal dalam tradisi Islam.

Karena itu, MUI mengimbau agar masyarakat tidak menjadikan potensi perbedaan ini sebagai sumber perpecahan. Sebaliknya, umat Islam diharapkan dapat menyikapinya dengan bijak, saling menghormati, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

BACA JUGA :  Polsek Carenang Bongkar Jaringan Curanmor di Serang dan Tangerang:6 Orang Ditangkap dan 10 Motor Disita

“Perbedaan metode adalah bagian dari dinamika keilmuan. Yang terpenting adalah menjaga persatuan dan tidak saling menyalahkan,” tegas Cholil Nafis.

Momentum Perkuat Persatuan Umat

Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan yang seharusnya menjadi momentum mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, MUI berharap seluruh elemen masyarakat dapat menahan diri dari perdebatan yang berpotensi memecah belah.

Dengan adanya potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H, umat Islam di Indonesia diharapkan tetap fokus pada esensi ibadah puasa, yakni meningkatkan ketakwaan dan kepedulian sosial.

Apapun hasil keputusan resmi nantinya, masyarakat diminta untuk menghormati keputusan yang diambil oleh masing-masing otoritas keagamaan dan tetap menjaga suasana kondusif. (Red/CKN)