Tjek Ban Tjut: Arsitek Tionghoa di Balik Keunikan Masjid Agung Banten

oleh
Ilustrasi Masjid Agung Banten
Ilustrasi Masjid Agung Banten

Tjek Ban Tjut: Arsitek Tionghoa di Balik Keunikan Masjid Agung Banten

Serang, Banten – Di tengah megahnya Masjid Agung Banten, salah satu peninggalan Kesultanan Banten yang kini berusia lebih dari 450 tahun, tersembunyi kisah menarik tentang seorang tokoh Tionghoa yang menjadi bagian penting dalam sejarah arsitektur Islam Nusantara.

Peran Strategis dalam Pembangunan Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin sekitar tahun 1566 sebagai simbol kebesaran Kesultanan Banten dan pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Arsitektur masjid ini mencerminkan perpaduan budaya yang kuat, khususnya budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

Floating Ad with AdSense
X

Salah satu tokoh penting dalam proses pembangunan masjid tersebut adalah Tjek Ban Tjut, seorang arsitek dari Tiongkok yang diundang untuk bekerja di kompleks masjid. Karyanya yang paling mencolok adalah pada atap utama masjid yang berbentuk bertingkat lima, yang menyerupai pagoda khas Tionghoa — simbol akulturasi budaya yang kemudian menjadi salah satu daya tarik utama bangunan ini.

Pengakuan dan Gelar Kebangsawanan

Atas jasa dan kontribusinya dalam pembangunan Masjid Agung Banten, Kesultanan Banten menganugerahkan gelar bangsawan kepada Tjek Ban Tjut, yakni Pangeran Adiguna. Gelar ini menunjukkan besarnya penghargaan terhadap keahlian arsitek asal Tiongkok tersebut dalam memperkaya tradisi arsitektur Islam di Nusantara.

Warisan Arsitektur yang Bertahan Hingga Kini

Atap masjid yang didesain oleh Tjek Ban Tjut bukan sekadar unsur estetik, tetapi juga menjadi bukti perjalanan sejarah yang memperlihatkan keterbukaan Kesultanan Banten terhadap kontribusi bangsa lain dalam pembangunan monumental mereka. Hingga kini, Masjid Agung Banten tetap menjadi situs bersejarah yang ramai dikunjungi, baik oleh umat Muslim maupun wisatawan dan peneliti budaya.

BACA JUGA :  Siswa Sekolah Harus Bayar Puluhan Juta Rupiah, Ini Modus Baru Kerja Sama Pihak SMAN di Kota Serang Dengan Pelaku Bimbel (bimgbingan belajar)

Di tengah persepsi umum bahwa bangunan bersejarah di Nusantara sebagian besar menggambarkan arsitektur lokal, kiprah Tjek Ban Tjut menunjukkan betapa kuatnya interaksi lintas budaya pada masa Kesultanan Banten. Warisan ini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan kekayaan tradisi Tionghoa dan Islam di Indonesia. (Red/CKN)