Maraknya Di Kota Serang Kejahatan Modus Baru dengan Perkenalan di Medsos, Targetnya Janda dan Gadis yang punya Motor

Maraknya Di Kota Serang Kejahatan Modus Baru dengan Perkenalan di Medsos, Targetnya Janda dan Gadis yang punya Motor
Maraknya Di Kota Serang Kejahatan Modus Baru dengan Perkenalan di Medsos, Targetnya Janda dan Gadis yang punya Motor

Kota Serang, CompasKotaNews.com – belakangan ini menjadi sorotan karena maraknya kasus penipuan dan kejahatan bermodus baru. Semuanya bermula dari perkenalan di media sosial—baik itu Facebook, TikTok, Instagram, maupun platform lainnya. Sasaran utama para pelaku adalah para gadis muda maupun wanita yang berstatus janda. Ciri khasnya, pelaku akan mencari target yang memiliki kendaraan roda dua, lalu mulai mendekati dengan kata-kata manis dan iming-iming persahabatan atau hubungan asmara.

Salah satu kisah yang paling mencolok dialami oleh seorang wanita berinisial EE. Ia pertama kali berkenalan dengan seseorang melalui TikTok. Pelaku tersebut mengaku berasal dari Jakarta, bekerja di ibu kota, namun bertempat tinggal di Bogor. Dalam percakapan daring, ia kerap menyampaikan keinginannya untuk berkunjung ke Serang dan bertemu langsung dengan EE. Terpukau dengan keramahan dan cerita-ceritanya, EE pun menyetujui ajakan bertemu itu.

Floating Ad with AdSense
X

Pertemuan pertama berlangsung cukup akrab. Mereka mengobrol panjang lebar, seolah sudah lama saling mengenal. Namun, perlahan namun pasti, pelaku mulai melancarkan rencananya. Di tengah perjalanan, ia mengaku memiliki urusan penting: ada uang yang harus ditagih dari seseorang. “Lumayan banyak jumlahnya, Neng. Daripada ditransfer nanti tidak sampai, lebih baik kita ambil langsung ke tempatnya,” ujarnya meyakinkan.

Tanpa curiga sedikitpun, EE menuruti kemauannya. Ia mengikuti pelaku berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan perjalanan itu membawanya hingga jauh ke Lampung. Sepanjang perjalanan, pelaku terus meyakinkan dan memanjakan EE—menjamin segala kebutuhan makan, minum, hingga biaya naik kapal laut semuanya ditanggungnya. Sikap itu justru membuat kewaspadaan EE semakin menurun.

Sesampainya di Lampung, pelaku kembali berjanji, “Nanti kita mampir ke rumah kerabat saya di sini, sekalian melunasi urusan tagihan itu. Tenang saja, semua biaya akan saya tanggung.” Namun kenyataannya, tujuan yang dijanjikan tidak pernah tercapai. Pelaku terus mencari alasan, hingga akhirnya mereka kembali menempuh perjalanan jauh menuju Serang.

Di perjalanan pulang itu, EE mulai merasa lelah dan sedikit gelisah. Ia menaruh tasnya di bagian depan motor, dengan saran pelaku agar barang-barangnya aman dari hujan. Pelaku sendirilah yang mengendarai motor, sementara EE duduk di belakang.

Ketika melewati jalanan yang agak sepi dan jauh dari pemukiman warga, pelaku tiba-tiba menghentikan kendaraannya. Ia memegang kepalanya sambil mengerang kesakitan. “Kepala saya pusing sekali, Neng. Tolong belikan obat misagrip di warung depan sana, ya? Saya tunggu di sini,” pintanya dengan nada lemah.

Tanpa pikir panjang, EE pun turun dan berjalan menuju warung yang jaraknya hanya beberapa langkah. Namun baru saja ia masuk dan memesan obat, saat ia menoleh ke belakang—motor dan orang yang bersamanya sudah menghilang. Ia berlari keluar, memanggil-manggil namanya, namun tak ada jawaban. Di sana, di tengah jalan yang asing dan sepi, EE ditinggalkan begitu saja bersama kepedihan dan kerugian yang dideritanya.

Berdasarkan laporan dari Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Serang, pola seperti ini sudah terjadi berkali-kali. Ada dua ciri utama yang wajib diwaspadai oleh seluruh warga, terutama para gadis dan janda:

  • Pelaku kerap membawa helm cadangan saat bertemu, padahal ia tidak membawa kendaraan sendiri. Jika ada orang yang baru dikenal meminta bertemu dan membawa helm namun tidak mengendarai motor, itu adalah tanda bahaya.
  • Pelaku sering menggunakan alasan mau menagih hutang atau hendak melayat kerabat yang meninggal dunia sebagai alasan untuk mengajak korbannya bepergian jauh. Alasan-alasan ini sengaja dipilih agar terlihat wajar dan mulia, sehingga sulit untuk ditolak.

Menanggapi banyaknya kasus yang merugikan ini, Toni Firdaus Sekretaris FKDM Kota Serang mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar lebih berhati-hati. “Jika baru saja berkenalan di media sosial, jangan pernah mau mengajak bertemu di luar rumah, apalagi diajak pergi ke tempat yang jauh,” tegas perwakilan FKDM.

“Kalau pun harus bertemu demi keperluan tertentu, pastikan dilakukan di tempat yang ramai, terang, dan terbuka. Jangan pernah mau dibawa ke tempat yang sepi atau asing, karena di situlah pelaku biasanya melancarkan aksinya. Lindungi diri Anda dan jangan mudah percaya pada kata-kata manis orang yang baru dikenal,” tambahnya.

Kota Serang kini bergerak bersama untuk menyebarkan kesadaran ini. Setiap orang diingatkan: dunia maya penuh dengan kemudahan, tapi juga menyimpan banyak jeratan bahaya bagi mereka yang kurang waspada. (TF/RED)