
CompasKotaNews.com – Keluarga rombongan jurnalis yang hilang bersama tiga kru speedboat Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda masih berharap seluruh korban dapat ditemukan.
Harapan tersebut tetap ada meski operasi pencarian dan pertolongan (SAR) secara resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026), setelah berlangsung selama 10 hari.
Mansyur Suryana, ayah jurnalis Antara, Bagus Khoirunas, mengaku berusaha menerima kemungkinan terburuk setelah mengetahui operasi SAR tidak lagi dilanjutkan.
“Kalau anak saya hilang, ya sudah ikhlaslah, menghadap-Nya, tapi tetap berharap, mudah-mudahan ada perkembangannya,” ujar Mansyur di Carita, Kamis.
Menurut Mansyur, keluarga menerima keputusan penghentian operasi SAR. Namun, penerimaan tersebut tidak berarti mereka kehilangan harapan untuk mendapatkan kabar mengenai keberadaan Bagus dan korban lainnya.
Keluarga juga memahami bahwa pencarian akan semakin sulit setelah operasi resmi berakhir. Karena itu, mereka tidak ingin menambah beban para petugas SAR yang telah melakukan pencarian selama beberapa hari.
Keluarga Terus Melakukan Ikhtiar
Selama proses pencarian berlangsung, keluarga tidak hanya mengandalkan upaya tim SAR. Berbagai ikhtiar juga dilakukan untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan para korban.
Keluarga bahkan mendatangi sejumlah tokoh untuk meminta doa serta dukungan agar pencarian membuahkan hasil.
“Mudah-mudahan anak saya dengan kasus seperti kecelakaan ini husnul khatimah, kebaikan bagi dia, kebaikan bagi semua orang,” kata Mansyur.
Pada malam terakhir operasi SAR, keluarga bersama sejumlah pihak juga menggelar doa bersama di sekitar lokasi posko pencarian.
Doa tersebut menjadi bagian dari upaya keluarga untuk tetap memberikan dukungan sekaligus memanjatkan harapan bagi keselamatan para korban.
Pencarian Berlangsung Selama 10 Hari
Operasi SAR gabungan terhadap rombongan yang hilang dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari. Durasi tersebut mencakup perpanjangan selama tiga hari dari operasi awal yang ditetapkan selama tujuh hari.
Meski operasi SAR secara resmi telah dihentikan, pemantauan terhadap wilayah perairan Selat Sunda tetap dilakukan.
Basarnas memastikan pemantauan masih melibatkan Vessel Traffic Service (VTS), Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal), Polairud, serta kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Penghentian operasi juga tidak menutup kemungkinan pencarian kembali dilakukan.
Apabila nantinya ditemukan informasi atau petunjuk baru terkait keberadaan delapan orang yang hilang maupun speedboat Arupadhatu 1, operasi SAR dapat kembali dibuka.
Dengan demikian, keluarga tetap menaruh harapan meski pencarian secara resmi telah berakhir. Mereka berharap setiap informasi baru dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui keberadaan para korban. (Bdi)

