
Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran Pengganti Ali Khamenei
CompasKotaNews.com – Nama Mojtaba Khamenei kini menjadi sorotan dunia setelah resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan ini diumumkan oleh Assembly of Experts atau Majelis Ahli melalui siaran resmi televisi pemerintah Iran.
Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi nasional, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi tetap berjalan meskipun Iran sedang menghadapi situasi konflik dan ancaman dari pihak luar.
Majelis Ahli sendiri merupakan lembaga ulama yang terdiri dari 88 anggota dan memiliki kewenangan penuh dalam menentukan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Penunjukan di Tengah Situasi Krisis
Majelis Ahli juga menyampaikan bahwa serangan bom yang menghantam kantor sekretariat mereka—yang menewaskan sejumlah staf dan petugas keamanan—tidak menghentikan proses penunjukan pemimpin baru.
Setelah pengumuman resmi dibacakan, penyiar televisi negara menyerukan takbir sambil menyatakan bahwa Khamenei telah ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi.
Stasiun penyiaran nasional Islamic Republic of Iran Broadcasting serta kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency turut menyiarkan dukungan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Dalam pernyataannya, IRGC memuji Mojtaba sebagai sosok ulama yang memiliki kapasitas intelektual kuat, pemikir muda yang memahami persoalan politik dan sosial, serta figur yang layak memimpin negara.
Korps Garda Revolusi bahkan menegaskan kesetiaan penuh kepada pemimpin baru tersebut dan menyatakan kesiapan untuk menjalankan setiap perintah yang dikeluarkan oleh Pemimpin Tertinggi.
Sosok yang Selama Ini Jarang Muncul di Publik
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang lebih sering bekerja di balik layar. Ia hampir tidak pernah tampil di depan publik, jarang memberikan pidato resmi, dan tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan.
Foto maupun rekaman video dirinya juga sangat terbatas.
Meski demikian, pengaruh Mojtaba di lingkaran kekuasaan Iran telah lama menjadi bahan perbincangan. Banyak pihak menyebutnya sebagai sosok penting yang memiliki akses langsung kepada ayahnya.
Dokumen diplomatik Amerika Serikat yang bocor melalui WikiLeaks bahkan pernah menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah”.
Sementara itu, laporan Associated Press menyebutnya sebagai figur yang tangguh dan berpengaruh di dalam struktur kekuasaan Iran.
Kontroversi Suksesi Kekuasaan
Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi memicu perdebatan. Sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979 setelah Iranian Revolution, sistem kepemimpinan negara tersebut menekankan bahwa pemimpin harus dipilih berdasarkan kapasitas religius dan rekam jejak kepemimpinan, bukan melalui garis keturunan keluarga.
Sebelumnya, Ali Khamenei hanya pernah berbicara secara umum mengenai masa depan kepemimpinan negara. Bahkan dua tahun lalu, seorang anggota Majelis Ahli mengklaim bahwa Khamenei menolak ide menjadikan Mojtaba sebagai kandidat penerusnya. Namun, isu tersebut tidak pernah dikonfirmasi secara terbuka oleh sang pemimpin.
Latar Belakang Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, sebuah kota penting di wilayah timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Khamenei.
Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi di Tehran yang dikenal sebagai lembaga pendidikan berbasis agama.
Saat berusia 17 tahun, Mojtaba sempat terlibat dalam dinas militer selama Iran–Iraq War. Konflik berdarah yang berlangsung delapan tahun itu memperdalam kecurigaan Iran terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang saat itu mendukung Irak.
Pada tahun 1999, Mojtaba melanjutkan studi teologi di Qom, pusat pendidikan agama Syiah terkemuka. Menariknya, ia baru mulai mengenakan pakaian ulama pada periode tersebut, yang tergolong tidak lazim karena kebanyakan ulama memulai pendidikan agama sejak usia muda.
Status Keulamaan dan Legitimasi
Sebelum ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba masih dikenal sebagai ulama tingkat menengah. Namun belakangan sejumlah media Iran mulai menyebutnya dengan gelar “Ayatollah”, yang merupakan titel bagi ulama senior.
Beberapa pengamat menilai perubahan gelar ini sebagai langkah untuk memperkuat legitimasi religiusnya.
Dalam tradisi ulama Syiah, gelar Ayatollah biasanya diberikan kepada tokoh yang memiliki kemampuan ilmiah tinggi serta diakui mampu mengajar di tingkat lanjutan.
Menariknya, situasi serupa juga pernah terjadi pada Ali Khamenei yang secara cepat memperoleh gelar Ayatollah setelah diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 1989.
Tuduhan Campur Tangan Politik
Nama Mojtaba pertama kali menjadi sorotan luas pada pemilihan presiden Iran tahun 2005 yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad.
Saat itu, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut memengaruhi proses pemilu melalui jaringan IRGC dan milisi Basij.
Empat tahun kemudian, tuduhan serupa kembali muncul ketika pemilihan presiden 2009 memicu gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Iranian Green Movement.
Beberapa demonstran bahkan menyuarakan penolakan terhadap kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya.
Tokoh reformis Mostafa Tajzadeh menyebut hasil pemilu tersebut sebagai “kudeta elektoral”. Ia kemudian dipenjara selama tujuh tahun dan mengklaim bahwa hukuman itu terjadi atas perintah langsung Mojtaba Khamenei.
Sementara itu, dua tokoh oposisi utama, Mir-Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, ditempatkan dalam tahanan rumah setelah pemilu tersebut.
Tantangan Besar di Depan Mata
Sebagian analis memperkirakan Mojtaba Khamenei akan melanjutkan garis kebijakan keras yang selama ini dijalankan oleh ayahnya.
Namun ia menghadapi tantangan besar, mulai dari menjaga stabilitas Republik Islam Iran hingga mengatasi krisis ekonomi dan politik yang sedang dihadapi negara tersebut.
Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa suksesi dari ayah ke anak dapat memunculkan persepsi bahwa sistem politik Iran berubah menjadi dinasti kekuasaan.
Situasi geopolitik juga menjadi ancaman serius. Menteri Pertahanan Israel sebelumnya bahkan menyatakan bahwa siapa pun yang menggantikan Khamenei akan menjadi target yang sah untuk dieliminasi.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah-langkah Mojtaba Khamenei dalam memimpin Iran di tengah tekanan politik domestik dan konflik internasional yang terus memanas. (Red/CKN)