Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Selimuti Pesisir Serang, Warga Keluhkan Mata Perih

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Selimuti Pesisir Serang, Warga Keluhkan Mata Perih

SERANG, BANTEN .CompasKotaNews.Com
— Abu vulkanik yang diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai terbawa angin hingga mencapai wilayah pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam.

Floating Ad with AdSense
X

Kondisi tersebut mulai dirasakan warga di kawasan Kecamatan Cinangka. Selain membuat sejumlah permukaan rumah dan lingkungan permukiman dipenuhi debu, sebaran abu juga menimbulkan keluhan kesehatan ringan, terutama mata terasa perih dan tenggorokan tidak nyaman ketika warga beraktivitas di luar ruangan.

Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, mengatakan intensitas debu mulai meningkat sejak sekitar pukul 17.00 WIB.

Menurutnya, abu vulkanik terlihat menempel di berbagai permukaan, termasuk kendaraan dan lantai di sekitar rumah. Kondisi jalan yang dipenuhi debu juga membuat mata terasa perih, terutama bagi pengendara yang tidak menggunakan pelindung.

“Mulai sekitar jam lima sore debunya semakin banyak. Saat naik motor, mata terasa perih kalau tidak memakai helm. Debunya juga menempel di badan dan kendaraan. Di depan rumah pun lantainya mulai dipenuhi debu,” ujar Sanan saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang.

Sanan mendatangi pos pemantauan untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kedatangannya dilakukan setelah warga mendengar suara gemuruh dan merasakan getaran yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian warga lebih berhati-hati ketika harus melakukan aktivitas di luar rumah. Meski secara kasatmata abu tidak selalu terlihat pekat di udara, debu vulkanik mulai tampak menumpuk di sejumlah lokasi.

“Kalau tidak menggunakan masker, tenggorokan terasa cukup sakit. Mata juga perih kalau tidak memakai kacamata. Memang debunya tidak selalu terlihat jelas di udara, tetapi di sekitar pos pemantauan ini terlihat sudah cukup banyak yang menumpuk,” katanya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga mulai memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan. Sejumlah warga menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi kehadiran siswa di sekolah yang menjadi lebih sepi dibandingkan biasanya.

Ajat, salah seorang warga, mengatakan suara gemuruh dan dentuman dari aktivitas Gunung Anak Krakatau sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Pasauran. Warga setempat sudah cukup terbiasa dengan aktivitas gunung api tersebut.
Namun demikian, meningkatnya aktivitas erupsi tetap menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian masyarakat. Beberapa warga bahkan memilih untuk sementara waktu menjauh dari kawasan pesisir dan menuju wilayah yang dianggap lebih aman.

“Sebagian besar masyarakat masih merasa aman karena kejadian seperti ini sudah cukup sering dirasakan warga Pasauran. Tetapi ada juga beberapa warga yang berinisiatif menyelamatkan diri dan memilih menuju daerah pegunungan,” tutur Ajat.

Warga di kawasan terdampak diimbau tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Penggunaan masker dan pelindung mata saat berada di luar ruangan juga menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi dan arahan resmi dari petugas pemantauan gunung api serta instansi terkait guna mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi di kawasan pesisir Selat Sunda.