Sejarah Menarik dari Objek-Objek Berbentuk Bulat

oleh
Sejarah Menarik dari Objek-Objek Berbentuk Bulat
Sejarah Menarik dari Objek-Objek Berbentuk Bulat

CompasKotaNews.com – Pada zaman dahulu, benda-benda yang sering kita temui sehari-hari tidak selalu memiliki bentuk lingkaran bulat seperti yang kita kenal saat ini. Sebaliknya, bentuknya sering kali berbeda dan berkembang seiring berjalannya waktu. Sejarah menunjukkan bahwa benda-benda seperti bola dan uang logam memiliki evolusi bentuk yang menarik.

Misalnya, bola pada awalnya mungkin tidak selalu berbentuk sempurna seperti yang kita kenal saat ini. Dalam sejarahnya, bola digunakan dalam berbagai permainan dan keperluan lainnya. Bentuk awalnya mungkin saja lebih kasar atau tidak sesempurna seperti yang kita lihat sekarang. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia, bentuk bola mulai disempurnakan untuk mencapai performa yang lebih baik dalam berbagai kegiatan olahraga dan permainan.

Sama halnya dengan uang logam. Di masa lalu, uang logam bisa memiliki berbagai bentuk, termasuk bentuk yang tidak beraturan. Namun, seiring dengan perkembangan sistem moneter dan kebutuhan akan standar yang jelas, uang logam kemudian dikepung menjadi bentuk yang lebih seragam, salah satunya bentuk lingkaran. Bentuk ini memudahkan produksi, penghitungan, dan penggunaan dalam transaksi sehari-hari.

Alasan utama di balik penggunaan bentuk lingkaran untuk benda-benda ini adalah kemudahan dalam penggunaan, produksi massal, dan konsistensi. Bentuk lingkaran memiliki sifat-sifat geometris yang memudahkan dalam banyak hal, seperti distribusi kekuatan yang merata pada bola, serta kemudahan dalam pembuatan dan penghitungan uang logam yang memiliki bentuk seragam.

Jadi, meskipun di masa lalu bentuk benda-benda seperti bola dan uang logam mungkin beragam, penggunaan bentuk lingkaran akhirnya menjadi standar karena kemudahan dan konsistensinya dalam penggunaan sehari-hari.

Bola Sepak

Bola Sepak

Sepak bola telah menjadi salah satu olahraga yang sangat populer di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Daya tariknya tidak hanya karena kemudahan dalam bermainnya, tetapi juga karena membutuhkan keterampilan individu dan kerjasama tim yang efektif.

Inti dari permainan sepak bola adalah mencetak gol dengan memasukkan bola ke gawang lawan menggunakan kaki. Kecuali untuk kiper, pemain hanya diperbolehkan menggunakan kaki dan kepala untuk mengontrol bola.

Bola yang digunakan dalam sepak bola memiliki bentuk bulat. Faktanya, bentuk bola ini bahkan menjadi inspirasi untuk istilah “bola” yang merujuk pada benda bulat dalam ruang.

BACA JUGA :  DPD LPM Prov Banten Jadi Percontohan Study Tiru Berorgansasi Oleh Provinsi Lain di Indonesia

Namun, jika kita melihat ke masa lalu, bola yang digunakan dalam sepak bola tidak selalu berbentuk bulat. Pada awalnya, bola sepak memiliki bentuk yang lebih mirip telur.

Hal ini karena bola dibuat dari organ kandung kemih babi atau domba yang secara alami memiliki bentuk lonjong. Untuk menjaga kekokohan bola saat digunakan, organ tersebut dilapisi dengan kulit.

Pada tahun 1860-an, orang mulai menggunakan bola yang terbuat dari karet dan kulit. Sejak saat itu, bola bulat menjadi standar untuk permainan sepak bola.

Salah satu keunggulan bola bulat dibandingkan dengan bola lonjong adalah kemudahan dalam memprediksi arah pantulannya. Berbeda dengan bola lonjong yang sulit diprediksi arah pantulannya.

Meskipun bola lonjong sudah tidak lagi digunakan dalam sepak bola, bentuk tersebut masih tetap populer dalam olahraga Amerika seperti sepak bola Amerika. Ini karena bola dalam olahraga tersebut lebih sering dipegang daripada ditendang.

Donat

Donat

Donat, secara luas dikenal sebagai salah satu jenis kue yang paling terkenal di dunia kuliner. Keunikan donat terletak pada bentuknya yang bulat dengan lubang di tengahnya, menyerupai cincin atau gelang yang tebal.

Banyak teori mengenai asal usul bentuk khas donat. Salah satunya mengatakan bahwa seorang koki pada masa lalu menciptakan versi awal donat dengan menempatkan telur di tengahnya. Sayangnya, kue tersebut seringkali tidak matang secara merata, dengan bagian tengahnya cenderung kurang matang sementara bagian luar terlalu matang. Untuk mengatasi masalah ini, bagian tengah kue dihilangkan, dan inilah yang membentuk cincin khas donat.

Namun, teori yang lebih banyak dipercayai mengatakan bahwa donat ditemukan oleh seorang pelaut bernama Hanson Gregory (1832-1921). Gregory menciptakan donat sebagai solusi untuk menghemat bahan makanan di kapal laut. Bentuknya yang praktis dan mudah disimpan membuat donat menjadi pilihan yang sempurna untuk perjalanan laut yang panjang.

BACA JUGA :  Ternyata Ada 5 Kecamatan di Kabupaten Lebak Banten Paling Tersepi, Ada Yang Tau Dimana?

Dari salah satu dari dua teori ini, donat tetap menjadi salah satu kue paling populer dan diakui di seluruh dunia. Rasanya yang lezat dan bentuknya yang unik membuatnya menjadi camilan yang dicari oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Uang Logam

Uang Logam

Uang merupakan elemen yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Fungsinya sebagai medium pembayaran dalam berbagai transaksi membuatnya menjadi objek yang sangat dicari oleh individu dalam menjalani kegiatan profesional mereka.

Dilihat dari jenisnya, uang dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama: uang kertas dan uang logam. Uang kertas memiliki keunggulan berupa berat yang lebih ringan dibandingkan dengan uang logam, serta dapat dibawa dalam jumlah nominal yang lebih besar.

Pada zaman modern ini, uang kertas jauh lebih umum digunakan daripada uang logam karena kemudahan dan kepraktisannya dalam penggunaan sehari-hari. Berbeda dengan masa lampau, di mana uang logam lebih mendominasi karena keawetannya dan sulitnya untuk dipalsukan.

Pada awalnya, uang logam diproduksi dari bahan emas dan perak karena kedua logam tersebut memiliki nilai yang tinggi. Bentuk awal uang logam atau koin tidak selalu berbentuk bulat, melainkan juga dapat berbentuk oval atau segi empat.

Menurut catatan sejarah dari Herodotus, seorang sejarawan Yunani Kuno, penggunaan uang logam pertama kali muncul di Lydia (kini bagian dari wilayah Turki). Dari sana, praktik penggunaan uang logam sebagai alat pembayaran kemudian menyebar ke bangsa Yunani dan Romawi.

Bentuk koin yang digunakan oleh bangsa Yunani diubah menjadi lingkaran untuk menghindari potongan atau pencurian di pinggirannya tanpa meninggalkan bekas. Selain itu, bentuk lingkaran juga memudahkan dalam proses penumpukan dan penyimpanan. Sejak saat itu, koin selalu diproduksi dalam bentuk bundar.

Lampu Bohlam

Lampu Bohlam

Merasa hampir mustahil untuk membayangkan kehidupan tanpa lampu. Bagi mereka yang harus menghabiskan malam tanpa penerangan, kegelapan akan menyelimuti hidup mereka.

Meskipun menyalakan api bisa menjadi solusi, namun asap yang dihasilkan dapat mengganggu pernapasan. Selain itu, api yang tidak diawasi bisa menjadi bahaya karena dapat padam tiba-tiba atau malah berkobar terlalu besar.

Maka dari itu, bohlam atau lampu pijar diciptakan. Seiring dengan kemajuan teknologi, lampu pijar yang tersedia saat ini hadir dalam berbagai warna dan tingkat kecerahan.

BACA JUGA :  Mahfud Md Temui Kelompok Petisi 100 yang Minta Pemakzulan Terhadap Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)

Perkembangan bentuk lampu pijar juga sangat signifikan. Di masa lalu, lampu pijar memiliki bentuk bulat dengan tambahan silinder di bagian atas atau bawahnya.

Bentuk bulat dipilih karena mampu menyebarkan cahaya secara merata. Di tengah lampu pijar terdapat filamen listrik yang menjadi sumber cahaya.

Dengan berkembangnya teknologi, muncul lampu neon atau LED yang mampu memancarkan cahaya yang lebih terang daripada lampu pijar biasa. Lampu neon tidak lagi terbatas pada bentuk lingkaran karena bentuk lainnya juga mampu menyebarkan cahaya dengan merata.

Jendela Pesawat

Jendela Pesawat

Pesawat saat ini menjadi pilihan utama bagi banyak orang yang ingin melakukan perjalanan jarak jauh. Kecepatan dan kemampuan pesawat untuk melintasi daratan dan lautan menjadikannya salah satu moda transportasi yang sangat diandalkan.

Mirip dengan kendaraan umum lainnya, pesawat dilengkapi dengan jendela. Namun, perbedaannya terletak pada bentuknya. Jendela pesawat memiliki bentuk bulat atau segi empat dengan sudut yang tumpul, tidak seperti jendela kendaraan darat atau kereta api yang umumnya berbentuk segi empat dengan sudut yang tajam.

Pada awalnya, pesawat menggunakan jendela berbentuk segi empat. Namun, setelah insiden pada tahun 1953, bentuk jendela pesawat diubah menjadi lebih bulat.

Pesawat dengan jendela bersudut tajam memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan selama penerbangan. Ini karena perubahan tekanan udara di sekitar pesawat saat naik dan turun.

Seiring waktu, sudut tajam pada jendela tidak mampu menahan tekanan udara yang berubah dengan baik. Akibatnya, jendela pesawat dapat retak secara tiba-tiba selama penerbangan, mengancam keselamatan penumpang.

Namun, risiko tersebut dapat diminimalkan dengan menggunakan jendela berbentuk bulat atau dengan sudut yang tumpul. Bentuk seperti ini membantu mendistribusikan tekanan udara secara merata di sepanjang permukaan jendela pesawat, mengurangi risiko retak atau kerusakan pada jendela. (Red/CKN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *