Fenomena Mengherankan: Saat Laki-laki Langka, Namun “Lebih Baik Jomblo dari pada Menikah Pria Miskin

SERANG KOTA, CompasKotaNews.com — Ada sebuah kenyataan yang terasa ganjil, namun nyata kita saksikan di sekeliling kita. Di era tahun 2026 hingga menjelang 2030, perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki di banyak tempat berubah drastis — ada tujuh perempuan untuk setiap satu laki-laki di beberapa lingkungan. Di sekolah menengah, di kampus-kampus, perempuan mendominasi. Di tempat kerja, di pabrik-pabrik, hampir 80 persen tenaga kerja adalah perempuan. Persaingan untuk mendapatkan pasangan laki-laki sebenarnya sangat ketat bagi kaum perempuan.

Namun di tengah kelangkaan itu, muncul sebuah sikap yang sulit diterima akal sehat: “Setia apa pun laki-lakinya, tetap saja banyak perempuan yang tidak mau jika pria itu miskin.” Kalimat ini bukan sekadar gosip, melainkan ungkapan yang kerap terucap secara terang-terangan. Bahkan ada yang menyatakan dengan tegas: “Lebih baik jomblo seumur hidup daripada menikah dengan pria yang tidak punya harta.”

Floating Ad with AdSense
X

Ironisnya, kenyataan berbicara lain. Kita melihat di mana-mana: perempuan yang lahir dari keluarga sederhana, yang berpenghasilan kecil, justru banyak dipinang oleh laki-laki yang kaya raya. Pria yang mampu membangun harta, tidak memandang latar belakang ekonomi pasangannya. Mereka mencari kesetiaan, kelembutan, dan akhlak yang baik — bukan sekadar tumpukan harta.

Lantas, mengapa justru sebaliknya begitu banyak yang memandang materi sebagai syarat utama? Padahal harta bisa habis, kedudukan bisa turun, namun akhlak dan kesetiaan adalah kekayaan yang tak ternilai. Ketika seseorang menolak seseorang hanya karena belum kaya, bisa jadi ia menolak orang yang kelak akan menjadi penopang hidupnya yang paling mulia.

Kita tidak menyalahkan siapa pun yang ingin hidup layak. Namun janganlah menjadikan kemiskinan sebagai satu-satunya alasan menolak seseorang. Laki-laki yang bekerja keras, yang setia, yang menjaga kehormatan — nilainya jauh lebih tinggi daripada harta yang diturunkan tanpa usaha. Semoga kita semua dapat kembali melihat nilai seseorang dari hatinya, dari ketulusannya, dan dari usahanya, bukan hanya dari isi kantongnya.

(Ckn/red)