SURAT TERBUKA UNTUK WALI KOTA SERANG: Jangan Hanya Dengar Bawahan, Dengarkan Juga Teriakan Warga

Oleh: Toni Firdaus
CompasKotaNews.com
Sabtu, 19 September 2026

Serang Kota || Compaskotanews.com —
Saya menulis ini bukan untuk menegur, melainkan sebagai wujud kepedulian tulus saya selaku penggiat publik di Kota Serang. Kepada Bapak Wali Kota Serang, Kang Budi Rustandi, izinkan saya menyampaikan satu hal yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama.

Floating Ad with AdSense
X

Bapak, sungguh, janganlah hanya menanggapi laporan yang datang dari lingkaran terdekat saja — dari dinas-dinas, dari kabinet, dari orang-orang yang setiap hari melapor di lingkungan Pemkot. Itu penting, namun tidak cukup. Pemerintah Kota Serang juga wajib mendengar teriakan warganya sendiri. Harus membaca surat-surat terbuka yang ditujukan kepada Bapak. Harus merespons keluhan yang muncul dari jalanan, dari gang-gang, dari setiap sudut kelurahan yang tak terlihat dari jendela ruang kerja Bapak.

Lihatlah, Bapak. Sampai saat ini masih banyak sampah berserakan di sudut-sudut kelurahan, di jalan-jalan lingkungan, di tempat yang seharusnya bersih dan nyaman. Ada 67 kelurahan di Kota Serang — dan belum semuanya terurus sebagaimana mestinya. Laporan-laporan warga tentang hal-hal sederhana namun nyata seperti ini, seringkali seolah tak disambut tanggapan yang layak.

Maka, saya pun meminta kepada para RT dan RW: sampaikanlah apa yang terjadi di lingkungannya kepada Lurah. Kepada para Lurah: sampaikanlah kepada Camat. Dan kepada para Camat: janganlah duduk manis di kantor saja, turunlah ke lapangan, lihatlah langsung keadaan warganya. Program Bapak Wali Kota harus terlihat nyata di hadapan masyarakat, bukan hanya tertulis di kertas laporan.

Bapak Wali Kota, program pemerintahan tidak akan tegak jika hanya Bapak sendiri yang bekerja. Harus ditopang penuh oleh para Kepala Dinas dan seluruh aparat di bawahnya. Namun yang saya lihat, ada fenomena yang sungguh janggal: sebagian besar Kadis justru menutup diri. Ada yang merespons, memang, tetapi banyak yang justru menganggap kritik sebagai gangguan. Padahal, Bapak, dikritik oleh rakyat itu bukan penghinaan — itu adalah masukan, itu adalah bukti rakyat masih peduli dan ingin pemerintahan ini lebih baik.

Karena itu, saya mohon kepada Bapak Wali Kota: jangan biarkan prinsip “Asal Bapak Senang” menguasai cara kerja pemerintahan ini. Janganlah hanya menerima laporan yang menyenangkan dari bawah, tetapi tutup telinga terhadap suara rakyat yang menyampaikan kebenaran. Dengarkanlah kami, karena Kota Serang ini milik kita semua, bukan milik satu meja kerja saja.

Semoga masukan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Agar langkah kita kembali ke jalan yang benar — berpihak kepada rakyat, mendengar rakyat, dan bekerja untuk rakyat.

(CKN/Red)